Jakarta, Selular. ID – Wanita merupakan sosok tangguh dengan memiliki peran penting sehingga kerap kali dijadikan sorotan di segala aspek kesibukan. Menjadi wanita bukan bermanfaat tak memiliki kesempatan buat menunjukkan bakatnya dalam berkarir.

Jika berbicara tentang wanita, sudah nyata selalu dikaitkan dengan Raden Ajeng Kartini, yang ialah sosok pahlawan bagi hawa Indonesia. Dahulu kala, kehidupan wanita Indonesia terbelenggu oleh adat dan budaya dengan membatasi pengembangan potensi hawa.

Namun berkah perjuangan Kartini yang tidak kenal lelah dalam menjunjung tinggi kesamaan hak antara kaum pria dan rani, kini para perempuan Indonesia dapat mengenyam bangku pelajaran setara dengan apa yang didapatkan oleh kaum adam, serta memiliki hak buat menggeluti profesi yang diimpikan hingga mencapai kesuksesan.

Di zaman pelepasan wanita saat ini, kartini modern bukan lagi sekedar memperjuangkan kesetaraan, namun juga harus menginspirasi banyak karakter agar selalu berbuat kejadian yang positif. Selain itu, wanita masa kini selalu dituntut untuk mandiri. Pokok, roda kehidupan berputar.

Kartini memang sudah tiada. Tetapi, perjuangan rupanya telah berbuah manis hingga sampai saat ini. Berkat perjuangannya, sekarang Indonesia banyak melahirkan kartini modern dengan memiliki peran penting di dalam berbagai bidang, termasuk dunia telekomunikasi.

Salah satu sosok wanita karir nan inspiratif dari pabrik telekomunikasi yang layak disandang sebagai kartini modern yakni Natasha Nababan, Chief Legal dan Regulatory Officer Indosat Ooredoo.

Sebelum berkecimpung di industri telekomunikasi, Natasha Nababan memulai karir nya di awal tarikh 2000 dengan menggeluti tempat hukum. Kala itu, dia bekerja di firma lembaga Ali Budiardjo Nugroho Reksodiputro, yang pada saat tersebut bermitra dengan White and Case LLP . Selain itu, ia juga merambah karir nya di dunia migas secara bekerja in-house di ExxonMobil selama lebih dari 17 tahun.

Sampai pada akhirnya, ia terjun ke industri Telekomuniasi. Berkah pengalaman nya menjadi seorang profesional hukum selama lebih dari 20 tahun, membuat ia didapuk sebagai Chief Legal dan Regulatory Officer Indosat Ooredoo, pada bulan Oktober 2020.

Industri telekomunikasi merupakan sepadan hal yang baru untuk Natasha. Kesulitan dalam memulai pun tentu dia alami. Mulai dari mempelajari pabrik baru di dunia Telekomunikasi, hingga dikritisi karena mendatangkan pemikiran-pemikiran yang baru. Namun baginya, itu semua merupakan bagian dari proses. Sebab karenanya, kendala itu tak membuat Natasha patah watak dalam mengemban tugasnya.

“Ada yang bilang, dalam suatu perubahan lazimnya ada honey moon , terus ada masa shock , kemudian nanti masuk ke masa and then what.   Masalah itu adalah hal yang biasa. Dengan menjadi pertanyaan berikutnya yaitu lalu mau diapakan? ” pungkas Natasha.

Dengan statusnya yang menyandang sebagai pemimpin di salah satu perusahaan telekomunikasi, hal tersebut membuat ia berharap untuk kedepannya bisa membentuk suatu legal and regulatory support function yang impactful tidak hanya bagi Indosat Ooredoo semata, tetapi juga mampu memberikan inspirasi bagi pabrik telekomunikasi di Indonesia.

Dalam merinti karirnya, Natasha ternyata memiliki kepiawaian dalam memikirkan ide-ide cermelang untuk kemudian dikemas menjadi suatu strategi yang nantinya dibagikan serta didiskusikan dengan beberapa team kerja nya. Seorang wanita yang dibesarkan dari kedua orang gelap yang punya kepedulian luhur terhadap orang sekitar ini, memiliki prinsip ‘Make an impact through caring’ sebagai bekal dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.

Sepanjang kegiatan karirnya, Natasha selalu pernah berkelana di dunia kerja lainnya. Mulai dibanding menjadi tenaga expat Asia di salah satu negeri di Afrika utara, membiasakan menangani proyek kelas dunia sambal belajar bahasa aneh baru, hingga mengurus pejabat imigrasi di Cilegon yang mengharuskan ia menunggu had larut malam. Semuanya ia nikmati dengan ikhlas. Menurutnya, selama seseorang punya mengecap humor yang tinggi, segala sesuatu akan indah dalam waktunya.

Perkara pendidikannya, Natasha meraih menggelar Sarjana Hukum di Universitas Indonesia pada tahun 1999. Setelah itu, beliau lalu meraih gelar Master of Laws (LLM) di bagian International Law and the Law of International Organization dari Rijksuniversiteit Groningen, Belanda. Disana ia dinobatkan jadi peserta Talented Indonesian Student Scholarship, Program dari the Netherlands Education Centre.

Menjadi wanita karir, tak membuat ia kurang dengan keluarganya. Bagi Natasha, keluarga tetap merupakan prioritas utamanya, baru kemudian pekerjaan. Oleh karenanya, ia berupaya melakukan pekerjaannya dengan baik agar cepat rampung sehingga dirinya memiliki waktu dengan cukup untuk keluarga, molek meluangkan waktunya melalui catch up ataupun quality time dengan cara makan berhubungan. Natasha juga mengatakan bahwa work life integration molek keluarga dan bekerja adalah bagian dari kehidupan sehari-hari.

Natasha Nababan berpesan kepada generasi millenials khususnya perempuan yang zaman ini baru memulai karirnya untuk mengawali langkah dengan menentukan visi dan urusan kerja terlebih dahulu.

“Biasanya, semakin pandangan dan misi ini dijadikan sesuatu yang lebih tinggi dari kamu, semakin indah perjalanan karir kamu.   Uang dan jabatan, sejenis saat bisa hilang ataupun bisa jadi tak tersedia puas2nya, tapi meninggalkan sejenis legacy yang baik & jangka panjang, biasanya bakal lebih memuaskan. ” tutup Natasha.