Jakarta, Selular. ID – Dell Technologies mengumumkan buatan riset global yang disponsori perusahaan dan dilaksanakan sebab Forrester Consulting. Bertajuk Digital Transformation Index, riset ini menunjukan bahwa sebagian tumbuh perusahaan di Indonesia kewalahan menangani perkembangan data yang sangat cepat. Riset ini dipicu oleh besarnya volume, kecepatan, dan ragam data yang membanjiri perusahaan, teknologi, sumber daya manusia, serta proses.

Riset Data Paradoks melibatkan responden lebih dari 4. 000 pembuat keputusan dari 45 negara. Penyusunannya riset tersebut berdasarkan tingkat kesiapan digital perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Dalam riset Digital Transformation Index terbaru, Dell Technologies menemukan faktor kontradiksi mengenai kelebihan data atau ketidakmampuan mengolah data menjadi wawasan adalah menjadi penghambat alterasi ketiga terbesar di dunia.

Menyuarakan juga: Dell Siap Menghadirkan Laptop Terbarunya Awal Tarikh

Hasil penelitian Digital Transformation Index tersebut menemukan tiga fakta yang sering dihadapi perusahaan di pengelolaan data sehingga menghambat transformasi digital.

1. Perbedaan/Paradoks Kesan

Tercatat, 88% perusahaan di Nusantara belum menunjukkan kemajuan, jalan dari sisi teknologi pemrosesan data dan kemampuan itu mengelola data. Inilah dengan menjadi penyebab utama terhambatnya transformasi digital perusahaan dalam Indonesia.

Sekitar 62% perusahaan di Indonesia masih jauh dari bahan transformasi digital mereka. Hanya 12% perusahaan di Nusantara yang masuk dalam bagian Data Champion. Sekedar keterangan, Data Champion merupakan perusahaan-perusahaan yang secara aktif terlibat di teknologi pemrosesan petunjuk dan memiliki kemampuan menganalogikan data.

Menangkap juga: Vendor Smartphone Menggempur Pasar Laptop Tanah Air 2021

2. Paradoks “Ingin Bertambah Dari yang Bisa Mereka Kelola”

Riset ini menemukan 72% perusahaan di Indonesia menggalang data lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk menganalisa dan menggunakannya. Tapi 67% menyatakan mereka tetap membutuhkan lebih banyak data daripada kemampuan yang mereka miliki saat ini.

Paradoks ini mungkin terjadi karena 58% perusahaan di Indonesia menyimpan mayoritas bahan di pusat data yang mereka miliki atau kelola sendiri. Meskipun mereka cakap manfaat dari pemrosesan petunjuk di edge (tempat data dihasilkan).

“Ketika perusahaan di bawah lagu besar untuk melakukan Transformasi Digital untuk mempercepat layanan pada pelanggan, mereka kudu mendapatkan lebih banyak petunjuk dan harus bisa membandingkan data yang mereka punya dengan lebih baik. Terlebih saat ini, dimana 38% perusahaan di Indonesia membuktikan bahwa pandemi secara istimewa telah meningkatkan jumlah keterangan yang perlu mereka kumpulkan, simpan, dan Analisa. Buat menjadi sebuah perusahaan dengan fokus pada data (data-driven) adalah sebuah perjalanan, serta mereka akan membutuhkan pedoman dalam perjalanan tersebut, ” ujar Richard Jeremiah, General Manager, Dell Technologies, Nusantara disela acara Media Briefing Riset Data Paradoks Dell Technologies

3. Paradoks “Melihat Tanpa Bertindak”

Dalam 18 bulan belakang, sektor on-demand berkembang cepat, memicu gelombang baru bisnis yang menerapkan data-pertama (data-first) dan data-dari-manapun (data-anywhere). Kira-kira 12% perusahaan di Indonesia telah mengalihkan sebagian tumbuh aplikasi dan infrastruktur TI mereka ke model as-a-Service.

Perusahaan di Indonesia (65% ) tahu peluang untuk mengembangkan ataupun mengubah permintaan konsumen. Selanjutnya Model on-demand akan positif 81% perusahaan di Nusantara yang saat ini sedang menghadapi salah satu atau semua hambatan berikut buat bisa mengumpulkan, menganalisis, dan mengambil keputusan yang berbasis data dengan lebih jalan.